Minggu, 01 Juni 2014
Senin, 11 Februari 2013
Nuren kecil tumbuh dengan kecintaannya pada tanaman buah nanas sama seperti ayahnya. Ia begitu senang memerhatikan buah kecil bermahkota itu muncul dari sela-sela daun panjangnya yang berduri. Cahaya matahari pagi dan senja memantulkan warna keemasan nanas-nanas yang siap dipanen. Sering sekali ibu Nuren menasehatinya supaya berhati-hati karena tanaman nanas itu bisa menyakitinya. Tawa renyah Nuren yang berlarian diantara tanaman nanas seolah menghilangkan sakit akibat tertusuk duri daun nanas yang makin meninggi.
Tapi kebahagiaan Nuren, ayah dan ibunya tidak berlangsung lama. Saat Nuren berusia 3 tahun, ibunya jatuh sakit dan meninggal. Kesedihan yang teramat sangat melanda keluarga itu. Sebagai warisan beliau meninggalkan bibit-bibit nanas emas dengan rasa terlezat. Karena tidak bisa mengurus Nuren yang masih kecil, ayah Nuren menikah lagi dengan wanita sederhana. Dari pernikahan itu lahirnya Renggalis. Ibu tiri Nuren menyayanginya sama seperti menyayangi Renggalis. Kebahagiaan Nuren berangsur pulih kembali.
Dibandingkan Nuren, Renggalis tidak terlalu pandai bertani. Ia lebih suka membantu ibu membereskan pekerjaan rumah. Saat Nuren dan ayah bekerja di kebun memelihara tanaman nanas emas mendiang ibu Nuren, Renggalis akan menyiapkan segala sesuatu di rumah sehingga saat kakak dan ayahnya pulang mereka dapat makan dan beristirahat dengan gembira.
Suatu hari, saat Nuren sedang berada di kebun membersihkan rumput-rumput disela-sela tanaman nanas, Renggalis datang tergopoh-gopoh.
"Ayuk, ayuk. Ayuk Nuren," serunya. "Aku punya kabar bagus."
"Kabar bagus apa 'dik?" Tanya Nuren sambil menghentikan pekerjaannya.
"Tadi di pasar, orang-orang sedang membicarakan sayembara. Tuan tanah kampung seberang akan memberikan sekarung kepingan emas bagi siapa yang bisa membawakan nanas paling manis dan segar."
"Sekarung kepingan emas?" sahut Nuren.
"Iya. Bukankah nanas ayuk Nuren rasanya manis dan segar dan belum pernah kita jual kepasar sekalipun. Sebentar lagi panen besar tiba. Aku yakin nanas ayuk Nuren akan menjadi pemenangnya."
"Kalaupun itu benar, Tuhan pasti sudah mendengar doa kita. Ayah dan ibu pasti senang sekali mendengar hal ini," jawab Nuren.
"Iya yuk, ayo kita kasih tahu mereka." Rengganis membantu Nuren membereskan peralatan berkebun. Mereka bergegas pulang. Tawa mereka terdengar nyaring saat kaki-kaki mereka yang lincah melompati tanaman-tanaman nanas yang baru tumbuh. Renggalis mengenggam tangan Nuren erat-erat, ia bahagia sekali membayangkan kakaknya akan menjadi pemenang sayembara.
Setiba dirumah, Renggalis segera menceritakan apa yang ia tahu kepada orang tua mereka. Ayah dan ibu juga merasa bahagia. Mereka menyuruh Nuren dan Renggalis untuk tidur supaya esok hari bisa mengantarkan nanas emas mereka untuk mengikuti sayembara. Pagi-pagi sekali Nuren dan Renggalis berangkat ke pasar dan mencari tahu tentang sayembara itu. Setelah bertemu dengan orang kepercayaan tuan tanah seberang, mereka dipersilahkan pulang setelah memberikan keterangan tentang siapa mereka dan dimana mereka tinggal. Mereka diminta menunggu 3 hari sampai seminggu karena peserta sayembara datang dari seluruh wilayah Prabumulih.
Rengganis yakin sekali kakaknya menang. Setiap hari itu-itu saja yang dibicarakannya. Pada hari ke lima sejak mereka menunggu, seorang utusan datang ke perkebunan mereka untuk menyaksikan sendiri asal dari nanas emas dengan rasa manis yang segar.
"Setelah menyaksikan sendiri dengan mata kepala, kami percaya bahwa nona Nuren adalah pemilik nanas emas dengan rasa manis dan segar," kata orang kepercayaan tuan tanah kampung seberang.
"Untuk itu kami menggundang nona Nuren untuk datang paling lambat dalam 2 hari untuk mengambil hadiahnya yaitu sekarung kepingan emas."
"Horeeeee," teriak Rengganis kegirangan. "Ayuk Nuren menang. Ayuk Nuren menang." Orang kepercayaan tuan tanah kampung seberang mengingatkan Nuren untuk membawa sekarung nanas emas sebagai ganti hadiahnya saat ia datang.
Malam itu Nuren tidur dengan bahagia. Dia bermimpi berada dipelukan mendiang ibunya. Rasanya sangat nyaman. Pagi-pagi sebelum Nuren berangkat, ibu menyiapkan bekal kue selai nanas kesukaan Nuren kalau-kalau ia lapar di jalan. Saat Nuren masih tertidur pulas, pelan-pelan Ibu membangunkan Rengganis tanpa membuat suara sedikitpun dan mengajaknya berbicara di belakang rumah.
"Ada apa bu?" Tanya Rengganis. "Mengapa ibu mengajakku berbicara di belakang rumah?"
Ibu memegang tangan Rengganis erat-erat. Ia berkata pelan namun sangat jelas.
"Ibu ingin kamu memberikan bekal kue selai nanas kepada ayukmu Nuren. Pastikan ia memakan kue selai dalam bungkusan warna hijau. Ibu sudah memberinya racun," kata ibu.
"Apa 'bu?" Rengganis terbelalak. "Apa maksud ibu? Mengapa ibu begitu jahat? Aku pikir ibu sayang kepada ayuk Nuren," kata Rengganis setengah berteriak.
"Ya, ibu sayang padanya. Tapi ibu lebih menyayangimu sebagai anak kandung ibu. Lakukan apa yang ibu suruh. Jangan membantah. Kalau ini terbongkar, kita berdua bisa dapat masalah." Ibu membiarkan Rengganis menangis sebelum memerintahkannya berhenti dan menemui Nuren untuk menyerahkan bekal kue selai nanas.
Bingung tidak tahu harus berbuat apa, Rengganis menemui Nuren. Perintah ibunya terngiang-ngiang dikepalanya dan membuatnya pusing.
"Rengganis, apa yang kau mau setelah aku membawa pulang kepingan emasnya?" tanya Nuren tidak curiga. "Apa kamu mau baju indah yang dijual ditoko sebelah warung manisan? Atau sepatu warna merah yang sudah lama kau inginkan?" tanya Nuren lagi.
"Aku tidak mau apa-apa 'yuk," jawab Rengganis lirih.
"Ah kamu ini. Jangan malu-malu. Tentu semua kebagian. Ayah, ibu, kamu semuanya. Aku sayang kalian semua," Nuren terdengar senang sekali.
"Aku cuma mau ayuk Nuren pulang dengan selamat. Aku dengar jalan ke kampung seberang itu kadang ada orang jahat," lirih Rengganis dengan suara bergetar.
"Jangan kuatir. Ayah akan mengantarkanku bertemu dengan orang kepercayaan tuan tanah itu. Dan ia akan mengantarkanku sampai di rumah kembali dengan selamat. Benar kamu tidak mau apa-apa. Kalau kamu berubah pikiran, beri tahu segera ya."
"Ada yuk. Aku mau sesuatu," jawab Rengganis.
"Sebutkan saja adikku."
"Aku mau semua kue selai nanas ditempat biru yang dibuat ibu untuk ayuk. Aku mau semuanya."
"Wah kamu ini serakah sekali. Masa mau makan semuanya. Aku juga mau."
"Tidak boleh." Rengganis merampas kue selai nanas dan dihadapan Nuren ia menghabiskan semuanya.
"Wah kamu lapar rupanya," kata Nuren sambil mengusap-usap kepala Rengganis.
"Sudahlah 'yuk. Cepatlah pergi. Ayah sudah menunggu. Jangan sampai terlambat," kata Rengganis menahan air matanya.
"Baiklah. Jangan sedih 'ya. Aku 'kan pergi tidak lama. Jaga rumah. Jaga ibu ya.."
Saat Nuren sudah berlalu dari hadapannya, Rengganis menangis sejadi-jadinya.
Berlari ia datang kepada ibunya yang sedang memasak di dapur. Ibu tampak tenang menghadapi Rengganis yang panik.
"Ibu, aku tidak bisa. Aku tidak tega membunuh ayuk Nuren. Dia ayuk yang baik. Aku sudah makan semua kue beracun itu. Kalau aku mati, ibu sayangi ayuk Nuren seperti ibu menyayangiku. Jangan sia-siakan dia. Ayuk Nuren tidak pantas mati seperti ini." Rengganis menangis terisak-isak.
"Anak bodoh," kata ibu. "Jadi kamu yang makan sendiri kue selai nanas di tempat biru itu?"
"Iya bu. Biar aku saja yang mati. Aku tidak tega melakukannya pada ayuk Nuren." Rengganis makin tersedu-sedu. Ia mulai takut menghadapi kematian.
Ibu mengangkat kepala Rengganis untuk menatap wajah ibunya.
"Dengar Rengganis anakku. Tidak ada racun di kue selai nanas itu. Ibu hanya mengujimu."
"Mengujiku bu?" Tanya Rengganis heran. "Apa maksud ibu?"
"Ibu mau tahu apakah kamu tulus mengasihi ayukmu. Ibu mau tahu apakah kamu menjadi iri dengan kemujuran yang didapatkan ayukmu dan memusuhinya atau tidak. Ternyata kamu adalah adik yang tulus mengasihi saudaramu. Ibu bangga padamu."
Ibu memeluk Rengganis erat-erat dan bersyukur memiliki dua putri yang saling menyayangi.
Besoknya saat Nuren pulang dengan sekarung kepingan emas, semua keluarga menyambut gembira. Dari kejauhan buah nanas emas yang menguning tampak ranum diantara hijau daunnya yang meruncing. Sejak saat itu setiap orang menemukan buah nanas manis segar, mereka akan teringat akan cerita kasih sayang diantara dua kakak beradik yang tulus mencintai.
Jumat, 25 Januari 2013
Kisah Sebatang Pohon Rambutan Tua
Tumbuh diantara rumput-rumput yang serut
Dan berteman dengan debu yang melayang-layang
Saat warna jingga surya meredup makin ke ujung
Ketika siang nyaris habis termakan waktu
Dituturkannya tentang satu rindu yang tidak berkesudahan
Dari seorang wanita renta kepada anaknya
Dari seorang wanita muda kepada kekasihnya
Dari seorang wanita belia kepada harapan-harapannya
Dari dalamnya senilai sebuah jiwa
Daun-daun yang jatuh menjadi sebentuk sedih
Tidak tergapai oleh mimpi terindah di malam terpanjang
Karena kerontang kemarau menyisakan serpihan coklat tua
Di sisa daun-daun yang harus rela terbakar bara
Sebagai pengusir nyamuk di malam yang berangsur punah
Menyisakan abu cerita tentang kematian cinta yang tragis
Oleh siksaan pedih penghinaan akan ketulusan dan pengabdian
Di jelaga pekat langit bulan Januari yang tidak lagi menantikan pagi
Pohon rambutan tua itu seolah berbicara dan bertanya
Mengapa begitu susah mengejawantahkan esensi nurani
Saat semestinya kata-kata menyusun utuh makna kau dan aku
Mengapa jalinan-jalinan pengertian 'tak kunjung terurai
Saat seharusnya pengertian itu menjadi jalinan baru, bukan mengusut dan semakin kusut
Mengapa mimpi-mimpi hanya sekedar mimpi-mimpi
Saat sepatutnya ia berbicara tentang dunia imaji yang lebih nyata
Lelah ya, katanya....
Rasanya tidur dalam istirahat panjang menjadi pilihan lebih baik
Untuk menemani suksma yang sudah berpisah dengan raga sewindu bahkan seabad lalu
Tapi perjalanan menuju keabadian itu menyakitkan
Peluhku 'tak kuasa menghabiskan barang sedetik
Untuk berdiang dilamanya titik nol
Beku, bisu, biru...
Pohon rambutan itu terpekur
Menghabiskan seribu purnama dalam diam yang membahana
Mengisi ruang-ruang yang kosong dengan jawaban-jawaban
Yang ditemui saat jiwa keduanya berangsur memutih
Energi yang mendadak terisi ketika warna matahari adalah keperakan
Dahagaku, ucapnya..
Adalah pada sebuah oase di malam jutaan bintang
Adalah pada rintik hujan perlahan di pagi berselimutkan sejuk
Adalah pada mekarnya teratai merah di kolam depan rumah
Adalah pada diam yang menjamin semua pengertian
Pohon rambutan itu lalu hancur oleh waktu
Seiring rindu wanita tua pada anaknya yang terlekang oleh jumawa
Terkikis oleh percik kecewa wanita muda pada kekasihnya
Terpuing remuk bersama hilangnya harapan wanita belia
Tinggal aku yang berdiri bertanya
Digundukan bekas pohon rambutan tua
Dengan lubang menganga di tanah
Sebesar lubang menganga di jiwa
Yang berakhir sama seperti alkisah sebatang rambutan tua
Jakarta, 25 Januari 2013
*Pohon rambutan tua, pohon simbol masa kanak-kanak di Jalan Nanas Prabumulih, milik mbah putri yang menyimpan catatan semua kenakalan dan harapan kami.
Minggu, 06 Januari 2013
Jiwa Gunung Andalis
Dulu sekali, saat kekuatan alam yang ajaib memberikan kehidupan pada semua benda, hiduplah dua balon bernama Taisa dan Kalis. Mereka tinggal di lereng gunung Andalis bersama binatang-binatang dan bunga-bunga yang indah. Taisa adalah balon yang tidak suka tergesa-gesa. Ia menghabiskan waktunya dengan terbang rendah untuk melihat-lihat mahluk lain yang bisa dibantu. Sementara Kalis adalah balon yang selalu terburu-buru dan senang terbang tinggi untuk menunjukkan kehebatannya.
Sebelum orang tua Taisa dan Kalis menyatu dengan alam, mereka menitipkan Taisa dan Kalis pada Bapak dan Ibu Pelatuk. Taisa dan Kalis berteman dengan Tiko si tikus tanah yang selalu menceritakan kabar dari dalam tanah. Dan jika mereka beruntung mereka dapat bertemu dengan Pak Kuri si landak. Taisa dan Kalis suka menghabiskan waktu mendengarkan cerita Pak Kuri tentang kejadian-kejadian alam yang terjadi di masa lalu. Sayangnya Pak Kuri tidak bisa setiap saat ditemui karena ia seekor landak penyendiri.
Sejak masih kecil Taisa dan Kalis sudah diberitahu bahwa suatu hari mereka harus melakukan sesuatu untuk kebaikan alam. Taisa percaya bahwa kebaikan itu berupa pertolongan yang harus diberikan pada yang membutuhkan. Karena itu Taisa selalu terbang berputar-putar dilereng bukit dan berusaha membantu hewan atau tumbuhan disana. Sementara Kalis berpikir bahwa kebaikan yang harus dilakukan adalah dengan menjadi yang pertama dan terbaik. Setiap hari ia mengasah keahlian terbangnya. Ia selalu terbang tinggi untuk menyamai pohon cemara yang tumbuh di puncak gunung. Diam-diam ia ingin terbang lebih tinggi sampai ke awan.
Pagi itu saat udara yang segar menyambut, Kalis sudah berada di antara pohon-pohon akasia.
"Sebaiknya kau tidak terbang tinggi hari ini," kata Ibu Pelatuk. "Angin sepertinya akan bertiup sangat kencang. Kau akan terbawa sampai jauh dan tidak bisa pulang."
"Ah, ibu terlalu kuatir. Aku 'kan bukan pertama kali ini terbang. Pohon cemara yang paling tinggi saja sudah ku kalahkan. Apa susahnya menaklukan angin?" jawab Kalis.
"Ibu hanya ingin kau waspada Kalis," kata Ibu Pelatuk menasehati.
"Tenang saja bu. Aku balon paling hebat di Gunung Andalis. Aku pasti bisa menjaga diri."
Ibu Pelatuk menghela nafas. Dalam hati ia tahu Kalis akan mendapatkan masalah karena sifat sombongnya itu.
Malam itu bulan sabit muda bersinar. Bintang tampak berkelap-kelip dari kejauhan. Taisa terbang pelan-pelan diantara pepohonan memandang ke arah timur. Ia bertanya-tanya apa yang harus dilakukannya untuk kebaikan alam. Tiba-tiba dari arah belakang, Tiko memanggilnya.
"Ada apa Tiko?" tanya Taisa. "Kau tampak bersemangat sekali."
"Aku mendengar kabar yang seru," kata Tiko.
"Tentang apa?" tanya Taisa.
"Hewan-hewan di dalam gunung berkata bahwa mereka melihat sesuatu yang berkilau."
"Sesuatu yang berkilau?"
"Ya, indah dan menakjubkan."
"Mungkinkah itu jiwa Gunung Andalis?" Kata Taisa bergumam.
"Jiwa Gunung Andalis?" tiba-tiba Kalis sudah berada di hadapan Taisa dan Tiko. "Kau percaya dongeng yang diceritakan Pak Kuri?" kata Kalis sambil terbahak.
"Aku juga percaya," potong Tiko sebelum Taisa berkomentar. "Sebagian besar penghuni lereng gunung juga percaya itu."
"Ya ya ya, kalian mungkin sedikit bodoh mempercayai dongeng tentang Jiwa Gunung Andalis yang menunggu Sang Pembebas untuk memberikan kebaikan pada seluruh alam," kata Kalis. Tiko melotot tidak senang.
"Itu bukan dongeng isapan jempol Kalis," kata Taisa dengan perlahan. "Aku bisa merasakan bahwa itu benar dan keberadaan kita disini berhubungan dengan itu."
"Apa maksudmu?" tanya Kalis pada Taisa. Taisa diam. Ia seperti sedang memikirkan sesuatu.
"Maksud Taisa adalah bahwa kalian berhubungan dengan jiwa Gunung Andalis yang menunggu untuk dibebaskan," sebuah suara muncul dari kegelapan. Tiko, Taisa, dan Kalis terkejut melihat Pak Kuri muncul dari balik semak-semak. "Taisa dan Kalis adalah calon Sang Pembebas."
"Apa?" kata Taisa dan Kalis serempak. Taisa menunjukkan ekspresi tidak percaya sementara Kalis tertawa kegirangan.
(...bersambung...)
Rabu, 12 Oktober 2011
Menyoal Sri
Aku teringat fenomena alam yang menakjubkan
Badai di tengah hari...
Guruh dan gunturnya melambangkan suaranya yang mengelegar...
Kilatan cahaya melambangkan sorot mata yang tajam...
Hembusan angin melambangkan kata-katanya yang mengiris-iris hati sampai tipis...pis..pis..pis...
Dan, lalu, kemudian, setelah itu,turunlah hujan dihati para seteru...
Dalam sanubari mereka berjanji
"Gak akan berurusan dengan Sri lagi!!!"
Ngomong-ngomong soal Sri,
Aku teringat film horor Indonesia
Ya bangsanya kuntilanak, pocong, wewe gombel, atau suster ngesot 'gitu deh.
Semuanya bikin ngeri
Dan aku sering terngeri-ngeri karena Sri
Bukan...bukan...karena wajahnya yang seram
Tapi karena suara dan gaya ketawanya
Membuat para hantu itu memilih pergi
Gak kuat bersaing dengan Sri
Ngomong-ngomong soal Sri
Aku teringat dengan darah tinggi
Hm...ya 'gak heran lagi
Tapi aku tahu dalam hati
Jauh di lubuk nurani
Sri mengerti
Kalau dia nggak mau cepat mati
Dia harus banyak mengurangi
Makanan-makanan berkolestrol tinggi
Marah-marah 'gak ada arti
Juga menebar lirikan maut kesana sini
Ngomong-ngomong soal Sri
Aku teringat gaya kuno yang sudah pasti
Pernahkah kau menyadari?
Bahwa Sri selalu mengoleksi
Tustel kuno yang selalu berbunyi
Setiap jepretan beraksi
...
Pernahkah kau menyadari?
Saat kesempatan datang
Ia lalu berpikir matang-matang
Untuk memberi kamera untuk berpetualang
Tapi tetap saja....
Batere-nya segede gaban
Tapi kalau aku diajak ngomong-ngomong soal Sri,
Aku juga akan teringat pelangi
Yang nyata indah saat hujan reda
Karena dia selalu menebar cinta (dimana-mana)
Dengan semangkuk puding tanpa gula
Dengan hadiah-hadiah kecil penuh makna
Dengan masakan tak bergaram
Dengan traktiran
Dengan pesan "Nggak pake lama dan bawa kembalian."
Juga dengan sms bertubi-tubi
Jika sedang marah, bahagia, atau sedih
Kalau aku diajak ngomong-ngomong soal Sri
Aku pasti akan mengenang banyak hal
Bukan kegarangannya
Bukan hardikannya
Bukan sikap kasarnya
Bukan lirikan matanya
Bukan gaya songgongnya
Bukan juga hutangnya
...
Tapi aku akan mengenang...
Kata-kata penghiburannya
Sikap manis dan ramahnya
Pelukan hangatnya
Perhatiannya yang tiada tara
Jiwa besarnya
Sifat pengampunannya
Dan...cintanya...
Ya cintanya...
Karena cinta akan membuat kita selalu bersama-sama
Meski aku di sini dan kau di sana
Karena cinta akan membuat kita melupakan
Hal buruk di belakang dan melihat ke depan
Janji Indah Tuhan
Yang sudah disiapkan
Karena cinta akan membuat kita bertahan
Meski aral dan rintangan enggan digoyahkan
Meski kadang pahit kenyataan
Membuat kita jatuh dan kehilangan pegangan
Meski air mata satu satu jatuh perlahan
Kalau aku diajak ngomong-ngomong soal Sri
Aku pasti akan berseri-seri
Karena Sri akan tetap tinggal di sini
Di dalam hati....
Jakarta, 17 Juni 2011
Tapi Aku Tahu Dia Tahu
Ya...tidak tahu apa-apa lagi
Karena perjumpaan dan pertemuan kita
Tak lebih banyak dari butir-butir Pancasila
Apalagi bilangan sempurna
Hanya eka, dwi, atau tri
Akupun tak ingat lagi...
Fesbuk mungkin lebih mengenalmu, Arlaine...
Karena padanya kau ceritakan mimpi,
Resolusi,
Janji,
Transformasi
Yang mengubah dimensi dan ruang waktu
Dari mengenalmu ....
Menjadi menerka apa yang terjadi padamu
Menerka kalau kau sekarang sering melalang buana
Lalu mengupload foto-foto yang bikin iri
Dengan gaya yang masih sama...
Ya masih tetap sama...
Mengkampanyekan kekuatan wanita yang bisa tetap berkarya,
meski kadang aku bertanya-tanya..
Arlaine berkarya demi pelayanan atau...
Hm..demi hura-hura belaka hahahaha...
Aku tak tahu apa yang terjadi padamu, Arlaine....
Apakah waktu di bawah matahari mengikis gundahmu?
Apakah udara kental yg kadang pekat meleburkan semua kecewamu?
Apakah air mata yang mungkin ada,
Bisa mengurai pedih yang terasa,
Saat keinginan membentur karang kenyataan
Yang terlalu pahit untuk ditelan atau dimuntahkan?
Aku benar-benar tidak tahu apa yang terjadi padamu, Arlaine...
Apakah ulat yang pernah kita bicarakan dulu telah bermetamorfosis menjadi kupu-kupu?
Apakah bencimu pada coklat masih melekat?
Seperti rasa kasihmu pada sepiring sambal merah masih tetap sama?
Apakah kadar narsismu tetap masih berskala sama, berkurang sedikit, atau justru bermultiplikasi menjadi tak terkendali?
Aku benar-benar tidak tahu, Arlaine...
Tentang dirimu, apalagi tentang kisah cintamu...
Aku benar-benar tidak tahu tentang dirimu, Arlaine...
Tidak tahu...
Dan mungkin tidak pernah tahu...
Tapi aku tahu Dia tahu.
Aku tahu bahwa Dia sang pemberi hidup itu tahu..
Seperti apa rupa hatimu...
Seperti apa warna sedihmu...
Seperti apa percikan bahagiamu yang kau bagi dengan kami semua di sini
Aku tahu bahwa meski puisiku tak selalu hadir setiap waktu kau bertutur tentang ulang tahun
Dia yang menanugerahimu keindahan kasih akan senantiasa utuh menemani.
Aku tahu bahwa hidupmu akan nyata penuh warna
Bila ketulusan dan cinta menjadi sumbernya
Aku tahu bahwa puisi-puisiku akan berakhir
Dan berhenti memberikan arti suatu saat nanti...
Tapi yakinlah..
Hiidupmu akan tetap menebarkan makna jika engkau PERCAYA...
Sajak Pengharapan
Pada malam ke-dua belas tahun
Yang kami habiskan dalam kegundahan
Dengan kegusaran
Dengan kecemasan
Dengan kekuatiran
…
Namun juga dengan satu harapan
Kami ingin bercakap denganMu Tuhan
Menuturkan kerinduan yang menggumpal
Akan kebersamaan yang nyata indah
Ketika mata, hati, dan jiwa
Bersatu mengikis keluh
Yang terkadang menyelinap diantara udara
Saat waktu terasa semakin jauh
Kami ingin datang kepadaMu Tuhan
Mendekatkan raga kami yang mulai lelah
Lelah karena kami enggan menjadi bijak
Lelah karena kami tepiskan hikmatMu
Lelah karena kami manusia
Yang hanyut dalam dekapan dosa
Kami ingin mengenang rahmatMu Tuhan
Pada setiap berkat yang tercurah
Di perjalanan satu setengah windu
Betapa Engkau telah memuliakan kami
Di bumi yang berangsur tua ini
Kami ingin bersamaMu
Saat kami melipat tangan
Saat kami memejamkan mata
Saat menundukkan kepala
Juga ketika kami menekuk lutut
Dan mulai berbicara
Kami ingin menutup mata dunia kami Tuhan
Dan memandang agung ke hadiratMu
Saat Sang Penebus datang menyibak awan
Membahanakan sangkakala
Menggemakan sukacita
Sambil menggenggam keselamatan
Saat Yesus datang
Kami ingin mengimani janjiMu Tuhan Engkau tetap mencintai
Kami ingin meyakini keyakinan Engkau selalu mengiringi
Meski rindu yang kami miliki
Belum utuh terpenuhi
Biarlah Makarios menyuarakan kebahagiaan
Yang terwujud dari serpihan pengembaraan
Tetaplah Makarios menebar kasih
Dari setiap peristiwa terentang 4380 hari
Senantiasalah Makarios memegang janji
Untuk setia, mulia, dan bersahaja
Teruslah Makarios mewartakan kebenaran
…
Hingga Yesus datang
Sabat, 23 Oktober 2010
Tuhan Kalau Boleh
Biarku tukar waktu
Duduk di bawah ‘hot spot’ dan berfesbuk
Dengan satu jam bersama ibuku
Memeluk tubuh rentanya yang setia menjaga dan memberi cinta
Kepada lelaki tua yang kusebut ayah
Saat anak-anaknya jauh
Terpisah peradaban dan dimensi waktu
Tuhan kalau boleh…
Biarku ganti jam kerjaku
Yang habis dengan sok memberi konsultasi
Pura-pura memperbaiki ini itu
Juga bersibuk tanpa henti
Dengan satu hari bersama kekasih-kekasih hati
Yang selalu memperoleh sisa
Dari energi dan kekuatan yang ada
Tuhan kalau boleh…
Biarku perbaiki masa lalu
Yang rusak oleh kesalahpahaman dan keangkuhan
Saat cinta mula-mula nyaris kehilangan makna
Untuk sejenak mengemingkan kasih
Agar jiwaku bisa bertahan
Melampaui ujian kehidupan
Tuhan kalau boleh…
Biarku hapus berlaksa egoku
Yang tumbuh silih berganti
Menyemai pertengkaran, kebekuan, dan air mata
Mencatatkan semua pedih
Pada asap yang membumbung tinggi
Untuk sirna dan tidak hadir di kemudian hari
Tuhan kalau boleh…
Biarku ulang kembali kenanganku
Bersama dua pasangan masa kecilku
Abang yang laksana penjaga
Dan adik yang seperti merpati
Saat kami menghabiskan waktu
Meniti buih air di pipa belakang rumah
Dan api abadi yang tetap menyala
Meski di bawah deras hujan yang lama
Tuhan kalau boleh…
Biarku maknai hari-hari kedepan
Menikmati tiga benih yang sedang bertumbuh
Menjadi tiang-tiang kebahagiaan
Dalam rumah tangga yang Engkau persatukan
Melakukan berbagai pekerjaan sederhana
Sebagai seorang ibu dan wanita
Tuhan kalau boleh…
Biarku hentikan detik yang berjalan
Untuk merevisi resolusi
Menghaturkan segala syukur atas arti
Dari rasa sakit yang aku ciptakan sendiri
Dari pedih yang aku toreh sendiri
Dari kesalahan yang aku buat sendiri
Karena Engkau tidak pernah gagal
Menjaga hati dan menciptakan rencana
Yang senantiasa istimewa dan sempurna
Meski kadangkala dalam terpurukku aku berdoa…
Tuhan kalau boleh…
Lalukan cawan derita ini
Tapi bukan kehendakku yang jadi
kehendakMulah jadi…..
Jakarta, 7 Agustus 2010
Matius 26 : 42 Lalu Ia pergi untuk kedua kalinya dan berdoa, kata-Nya : “Ya Bapa-Ku jikalau cawan ini tidak mungkin lalu, kecuali apabila Aku meminumnya, Jadilah kehendakMu!”
Rabu, 20 Januari 2010
Mencintaimu Adalah Udara
Yang mahadaya mengikrar kita pada rentangan nyaris sewindu
‘tak jua aku temukan haru atau rindu atau kelu atau cemburu
Atas anugerah nyata di antara derak-derak percaya yang senantiasa utuh
Aku menyibak setiap sedih dan gundah saat pengertian terhilang
Bukan oleh gemuruh dendam pun oleh ujaran yang terabaikan
Tapi karena batas angkuh dan hikmat manusia menjelma menjadi karang
Yang membentengi kisah kita lalu menghempaskannya pada nihil kekosongan
Aku mereka-reka kesempatan
Untuk menikmati kesegaran cinta mula-mula
Dan menghirup wangi aroma kehidupan
Saat sunyi senyap menghantar altar berbicara
Aku menyemai semua kesempurnaan
Yang memberi jalan pada paket masa depan
Aku memozaikan iman pada bentangan masa
Yang memutih setiap kali kecewa tercipta
Aku memiliki pengharapan yang diagungkan
Saat muncul bimbang dan keraguan
Aku menikmati kasih saat ia menebar wangi
Untuk memberi jalan pada benih generasi
Aku menuliskan semua mimpi
Aku menyirnakan semua elegi
Aku melukiskan semua rintik hujan pagi hari
Aku menutup diri bagi datangnya sepi
Aku menghirup semua harapan
Aku memuntahkan semua kegundahan
Aku mengenangkan semua kebahagian
Aku meleburkan semua kegalauan
Ketika engkau menjadi titik kepastian
Aku mengenangkan arti dirimu dengan kata-kata
Dalam doa, dalam hadiratNya, dalam malam-malam kebersamaan
Karena mencintaimu adalah udara
Yang akan berakhir saat aku meninggalkan kehidupan
Kembangan, Jakarta 26 Desember 2009 2.18 a.m.
Untuk Ulang Tahun Iyang ke-35
Aku Mentertawakan Waktu
Juga terbahak bersama masa lalu
Yang serupa warna jingga di bawah matahari
Saat aku melepas janji seorang lelaki
Aku berbincang dengan rasa galau dan kegamangan
Bertukar kisah tentang cinta yang beraroma gunung dan sungai
Membawa ke hilir semua hasrat dan meninggalkan jejak makna
Di pelupuk setiap keinginan yang aku sebut kecewa
Aku membiarkan aliran udara membentuk elegi
Yang tertata bak lukisan muda : dengan bunga, embun, dan bias cahaya
Yang redup redam oleh perginya malam
Yang berangsur sirna saat engkau melepas dunia kita
Untuk bertemu dengan hujaman buih di karang dan serpihan iota di jagad raya
Aku berdiang bersama rasa hampa
Bertegur sapa dengan jiwa yang pernah ‘ku kenal sebelumnya
Dalam hitungan selaksa yang runtuh ketika cerita berangsur usai
Lalu lekang oleh jarak, masa dan dimensi yang berusaha bijak menyebut dirinya kehidupan
Melalangbuanalah rasa getir tidak percaya
Meliuk ‘bak asap menemukan jalan ke udara
Meratapi butiran butiran waktu yang terurai
Menjadi jejak di sukma, lalu terbenam dalam diam
Bergeminglah amarahku, berpedarlah dengan kegeraman
Bertemulah pada satu sudut yang aku sebut de ja vu
Yang rasa rasanya aku kenal
Yang rasa rasanya aku pernah alami
Yang rasa rasaya aku rasa sebelumnya
Aku mentertawakan waktu
Dan kembali terbahak bersama masa lalu
Kembangan, 7 Desember 2009
Cinta di Sabtu 27 Juni 2010
Karena bahagia itu berbicara saat sunyi datang
Untuk menebar utuh pengertiannya
Akan romantisme dan aroma cinta
Pada bentang hari yang nyaris habis
Dan seketika akan lebur dalam kemeriahan
Tetaplah berdiam, Anom…
Karena sendiri ini tidak akan menghampiri lagi
Detik demi detik akan berlalu menutup lajangmu
Dan membawa waktu tiba di penghujung
Lalu menutup satu babak cintamu dengan wangi kebersamaan
Nikmati saat berdiammu, Anom…
Serta lukiskan eforia bersama cawan resah atau harapan atau kegundahan atau kepastian
Di udara senja yang terbuka…
Biarkan racikan itu menguap untuk bertemu serpihan-serpihan cinta
Cobalah mendekap diam itu, Anom…
Rasakan kenyamanannya
Dengarkanlah wejangannya
Tentang kekasih sempurna
Tentang istri setia dan bijaksana
Tentang ibu penuh kasih mesra
Tentang wanita yang mulia
Tentang pengabdian dan kepercayaan
Tentang kesedihan dan keceriaan
Tentang warna ungu dan biru kehidupan
Tentang saat keterpurukan dan kesejahteraan
Tentang cinta dan pengorbanan
Hingga maut memisahkan kehidupan
Merenunglah dalam diam, Anom…
Bahwa cinta datang bukan dengan kebetulan
Ia menjumpaimu dalam rencana terbaik
Ia berbicara padamu meski engkau enggan berlama-lama di lapo tuak asli Medan
Ia berbisik dinuranimu walaupun engkau risih dengan perbedaan
Ia mendekap batas mampumu ketika engkau berpeluh dalam penyesuaian
Ia mengukir kenangan saat cinta ‘menjajal’ arti dirinya untuk mempertemukan dua kenyataan
Ia ada saat sepasang jiwa Sirait dan Sianturi bersatu dalam pernikahan
Ucapkan kata perpisahan dengan diam itu, Anom…
Karena penyatuan cinta itu telah menemukan muaranya…
Jakarta, 25 Juni 2009
Selasa, 19 Januari 2010
Kegundahan Saya
Melihat jiwa-jiwa muda itu
Harus membaca dan berhitung
Saat usia belum lagi genap empat tahun
Gundah saya…
Menyaksikan muka-muka lucu itu
Nyaris tanpa ekspresi
Saat aturan ini dan itu
Harus dijalani sepenuh
Gundah saya…
Menyadari masa kecil mereka kehilangan makna
Karena teriakan seru berayun
Pudar karena setumpuk PR
Karena histeria melihat cacing tanah
Hilang karena les-les Matematika dan Bahasa
Karena celoteh riang abang dan upik
Terhapus karena gemuruh tuntutan
Karena senandung ringan saat bermain air, tanah, dan udara
Pupus karena harus menempuh rangkaian ‘tes atau ujian’
Gundah saya…
Karena makna kanak-kanak dan remaja
Mati sebelum waktunya
Gundah benar saya…
Saat ancaman tidak naik kelas dan tidak lulus
Merebut hak mereka untuk menciptakan mozaik keindahan
Yang terpadu elegan karena sikap penerimaan
Yang terlukis tiada terperi oleh motivasi dan kepercayaan
Yang terpapar jelas pada setiap senyum dan dekapan
Yang tersenandung begitu merdu dari kata dan ujaran
Yang terpacu saat bertemu dengan dukungan
Yang nyaris sempurna berkat doa dan harapan
Benar-benar gundah saya…
Melihat tunas-tunas hijau itu
Terbakar matahari keangkuhan
Berbalut prestise, harga diri, dan aktualisasi
Karena bagi saya
Logika perengut kehidupan berbanding sama dengan ketiadaan
Nol, kosong, rapuh, dan hampa
Namun juga bersinonim dengan panen kejutan di masa depan
Saat arti diri berbaring sekarat kehilangan daya
Saat peduli menjadi sekedar milik para pemimpi
Saat etika berada entah di mana
Saat nurani buta oleh angkara
Saat generasi bebal dan kehilangan arah
Saat kebaikan dan pasti(nya) kebenaran hilang terhempas di jagad raya
Gundah saya….
Gundah benar saya…
Benar-benar gundah saya….
Jakarta, Kamis 25 Juni 200
Selasa, 10 Juni 2008
Kepada Regina
Berceritalah untuk langit ungu, Regina
Tentang rusa kecil yang berjalan ke telaga
Tiap jejaknya meninggalkan bekas
Walau sekilas
Bertanyalah pada angin yang menderu, Regina
Apakah suaranya tetap membahana
Disaat bising kerontang jiwamu mendahaga
Ditengah masa remaja yang kadang menghampa
Bercakaplah dengan sang waktu, Regina
Utarakan mengapa ‘tak sedetikpun ia berhenti
Agar satu hari dapat kau nikmati sendiri
Menghitung batas-batas di nurani
Berbisiklah kepada ombak, Regina
Luapkan emosi dan kegundahan di dinding karang
Dan biarkan rasa sepi itu menjadi gema
Yang hilang saat matahari berdiang
Bersahutlah bersama pohon-pohon cemara, Regina
Menarilah diantara langsing daunnya
Dan nyanyikan ribuan kidung pujangga
Tentang masa kecil
Tentang cinta pertama
Tentang kekaguman rahasia
Tentang pangeran impian
Tentang satu kenangan indah
Berserulah demi suatu masa, Regina
Bahwa engkau layak menjadi mutiara
Berdoalah bagi masa depan, Regina
Berdoalah…
Sabtu, 03 November 2007
Di Satu Cafe
Di satu Café, hampir setengah sepuluh. Aku duduk disudut ruangan yang nyaris gelap. Cahaya yang ada tidak layak disebut ’ sekedar’ temaram. Nyanyian lirih terdengar. Seorang penyanyi duduk diujung sana. Ia tidak cantik. Hanya wanita setengah baya berbaju gelap, rambut pendek dengan lipstik yang menyala. Aku memandangnya sampai aku jenuh. Aku mencari alasan mengapa aku disini, mungkin digiring oleh situasi yang tidak memberikan aku pilihan untuk menolak. Entahlah. Aku berada diantara orang-orang yang semestinya aku kenal. Tapi wajah-wajah itu berubah pias dan asing. Aku mulai gamang. Aku mulai diyakinkan kalau aku akan menyesali keberadaanku. Dua orang, sepertinya pasangan, berada disebelahku. Musik yang mengalir diudara malam yang berwarna kuning itu menyamarkan pembicaraan mereka. Mungkin mereka justru tidak berbicara. Aku tidak begitu perduli. Aku berangsur sibuk dengan pikiranku sendiri.
Lalu sunyi. Sunyi yang bertahta diantara waktu yang mengalir perlahan. Aku mengumpulkan keberanian untuk menatapNya. Aku berusaha mengatasi rasa takutku. Aku memandangNya. Memandang mataNya. Dan aku sangat terkejut.
Dalam dekapan Terang, jam sepuluh tepat. Aku merasa damai.
Palembang, 26 Februari 2002
Makarios Merindu
Tuhan,
Jika barisan tahun-tahun pengembaraan masih belum berarti
Berikan kami lagi masa untuk merenungi
Jika sembilan tahun belum cukup bagi niat yang murni
Tambahkan lagi waktu agar kami memahami
Jika kemeriahan bukan yang Engkau ingini
Izinkan kami mengetuk setiap nurani
Turunkan api untuk membakar semangat kami
Ajarkan kami tentang ketulusan yang nyata
Jika nyanyian damai itu berhenti bergema
Bantu kami kembali pada kasih yang mula-mula
Jika kami perlu membenahi semua
Buka mata kami untuk melihat dosa- dosa
Jika kepedulian pada sesama tidak lagi lagi ada
Sadarkan kami bahwa semuanya sia-sia
Jika kesadaran kami untuk berbakti menjadi semu
Biarkan kami terdiam mendekap semua haru
Jika kami tidak juga memiliki hati yang baru
Lebur dan tempa kami dalam dapur apiMu
Jika kehangatan mengumpal dan menjadi beku
Cairkan jiwa kami dengan FirmanMu
Jika tembok-tembok pemisah berdiri teguh
Kirim pasukan malaikat untuk membuatnya runtuh
Engkau tetap mencintai
Karena kami mengimani
Engkau selalu mengiringi
Karena ulang tahun terasa hampa
Tanpa kehadiran Sang Gembala
Karena Makarios kehilangan makna
Bila Engkau tidak turut serta
Karena kami merasakan pilu
Saat jauh dariMu
Karena kami rindu,
Kembali ke Kembangan Baru
Kamis, 13 September 2007
Anti Klimaks
Jika air mata ini bisa melegakan
Izinkan aku menangis tanpa isak
Apa lagi yang bisa membuatku merasa berarti
Bungkam dan bakar saja kata-kata itu
Makamkan aku di atas kerinduanku
Telanjangi aku karena kekurangan-kekuranganku
Biarkan saja pengertian menguap di jagat raya
Kutuk aku dalam kebisuanmu
Dalam terpurukku aku meminta ampunmu
Kembangan
6 September 2007
01.00 pagi
Sabtu, 11 Agustus 2007
A Haris’s Environment
Jika kau adalah Cupid
Kau akan tancapkan panahnya di jantung bidadari
Sehingga kau akan jatuh cinta
Dan memberi hati yang tak terbagi
Pada seorang juwita saja
Yang merentang perjalanan
Dari senyuman tersipu-sipu Nurlela
Hingga kekinian yang tak kunjung berjeda
Bercerita tentang satu kemungkinan yang pernah terlalaikan
Meninggalkan kisah sedih
Yang mungkin akan selalu menemani
Satu cerita jiwa yang nyaris hampa
Karena harapan pernah punah
Dan hilang entah kemana
Masuk seenaknya dalam jiwa
Lalu tinggal sangat lama
Karena sering persimpangan menjadi jawaban
Dari pertanyaan yang tak kunjung berakhir
Bimbang itu seperti virus
Bimbang itu gerhana matahari
Bimbang itu membosankan
Bimbang itu seperti Poppy
Yang syairnya kadang sumbang,
Kadang lebih sumbang
Karena hidup sering mengecewakan
Menghadirkan rasa hampa
Seperti makan siang tanpa ikan teri dan tempe dipotong kotak-kotak
Saat sepeda kesayangan hilang begitu saja
Kau bermetamorfosis menjadi Tepe
Yang merangkul penuh percaya diri
Redupkan warna angkuh dunia
Kau bukan cahaya saat temaram
Tapi kau adalah satu putih
Di belantara jelaga ungu
Yang melukis satu dongeng
Di dunia Abel
Digugusan pelangi hati sahabatmu
Menyempurnakan satu kebahagiaan dengan senyuman
Meredakan tangisan dengan rangkulan
Kau akan terus tancapkan panah cinta itu
Menebar pesonamu pada padang liar dunia
Dan taklukan amarahnya dengan ksatria
Satu paket ‘harapan baru’ telah dikirim untukmu.
Foot Notes:
1. Environment , satu kata Bahasa Inggris yang Haris ucapkan. He was so confident while saying it and it sounded wonderful. Environment juga berarli lingkungan, tempat tinggal, habitat, satu dunia yang dalam puisi ini mewakili satu cerita dalam kehidupan Haris.
2. Cupid, satu tokoh dalam mitologi Yunani berlambang anak kecil dengan sayap dan membawa panah yang menjadi simbol cinta. Cupid selalu ada dalam perayaan Valentine, cinta dan pasangan yang jatuh cinta.
3. Arjuna Mencari Cinta, satu judul lagu Dewa [sudah..ku daki gunung tertinggi] yang sempat kontroversial karena juga merupakan satu buku karya Yudistira dengan judul yang sama.
4. Nurlela, hm..ini satu nama yang berkesan untuk Haris karena memperkenalkannya pada satu perasaan yang indah. Mungkin Nurlela bukan cinta pertama, tapi Haris sempat merasa deg-deg-an hanya dengan memegang bukunya. He was still so young but he knew a chick pretty well ;-)
5. Andai, satu lagu GIGI dalam album “GIGI : The Best’.
6. Poppy, jika Nurlela membuat Haris berbunga-bunga, Poppy bangai ‘kutu’ bagi Haris yang harus di ‘plintes’. Kebencian yang nggak beralasan memang, tapi masa muda Haris diwarnai dengan rasa dogkol yang hm..quite silly.
7. Ikan teri dan tempe di potong kotak-kotak, dua macam makanan kesukaan Haris. Belinya di warung Ibu Jawa/Jokaw, tetangganya BiNus Syahdan.
8. Bermula dari seorang bocah yang tak berdaya
Saat sepeda kesayangan hilang begitu saja, curhatnya Haris pada Devi dan Maria di Warung Adijaya, Selasa 1 Juli 2003 saat makan siang.
9. Tepe, Tebar Pesona, panggilan akrab Haris yang sangat jelas merepresentasikan karakternya. Yuli yang pertama kali kasih tau.
10. Satu bintang di langit kelam, satu lagu RSD (Rida Sita Dewi).
11. Abel, Anak Belakang, [terdiri dari Detta, Haris, Yuli, Devi, Hoesin, Maria, Pieter, Tommy, dan Cathel]. Satu gang yang menunjukan identitas dan eksistensi para Abel. [disebut juga Abelian]
12. Biru, warna kesukaan Haris.
13. Kiting, singkatan dari ‘keriting’, panggilan yang diberikan karena rambut Haris pernah dikeriting atas dukungan dari Bunda tercinta.
14. Senada Cinta Besemi di antara kita satu lagu Fariz RM, yang dinyanyikan terus menerus oleh Haris sehingga menjadi satu ‘kecenderungan’ bagi Abel yang lain.
15. Have a gorgeous gorgeous day, satu pernyataan favorit Haris untuk memotivasi orang meskipun
kebanyakan tidak berhasil.
The Chronicle of Keyren
Kadang waktu tidak menjadi bagianmu Key,
seperti Atlas yang dikutuk
membawa beban bumi,
ke batas cakrawala
yang berubah menjadi udara pucat.
kau menunggu seperti Godot
Lelah hadir dengan pertanyaan kosong
yang engan kau jawab
membiarkan persimpangan itu menunggu,
membiarkan pilihan-pilihan itu belum tersentuh
membiarkan pergumulan itu selalu menantimu.
kau seolah kelinci yang keluar dari topi pesulap
berada diantara hiruk pikuk kemenangan
yang tidak menjadi milikmu.
mempuingkan keinginan untuk merengkuh raganya
saat Jakarta – Bangkok seperti seuntai mimpi
yang tak pernah selesai
karena kau selalu harus terjaga
saat kau ingin lebih lama terlelap
untuk menciumi wajah kekasih
sambil melantunkan risalah cinta
Love has many splendour things
Menawarkan buket kelam
dengan sayap-sayap yang patah
Kadang sedih menjadi nyata
saat warna kasih terpuing
dalam hidup yang tidak sempurna.
mengikuti kecewa yang datang tiba-tiba
bersama bentangan kenyataan
yang membuatmu berurai air mata.
Kadang semua menjadi nyanyian tanpa syair.
Kadang semua menjadi puisi yang sumbang.
Kadang semua menjadi lukisan tidak selesai.
Kadang semua menjadi sebaris elegi.
Kadang-kadang…
Hanya kadang-kadang…
Karena waktu selebihnya kau habiskan dengan tersenyum
menatap bentangan hidup
seperti sebatang coklat berlapis krim vanila
serta susunan apel hijau yang menyegarkan seperti hembusan angin diatas samudra
dan tidak terlupakan seperti sahabat lama
Meniti pematang hidup yang hijau oleh rasa cinta
Kau menjadi fortis angela
Bersinar seperti pedang Excalibur
tulus seperti merpati
kuat seperti debur ombak yang memecah karang
penuh harapan seperti benih diawal musim tanam
hangat lebih dari semangkuk soto
di warung ujung jalan
memberi kenyamanan
seperti berdiang diperapian saat hujan
menjadi oasis
Ada bintang jatuh Key,
Melesat seperti meteor
di langit malam bersetengah bulan
….
(I wish upon a star)
Before the moon sets again
you shall embrace your happiness
Happy Anniversary!
13 Maret 2003)
Waktu tidak menjadi bagianku adalah kalimat pembuka pada artikel yang ditulis Goenawan Mohammad untuk Majalah Tempo Edisi Millineum, bulan Desember 1999.
Cerita Mitologi Yunani tentang Atlas yang dikutuk oleh Dewa Zeus untuk membawa bumi kepuncak gunung dan menjatuhkannya kembali. Ia harus mengambil bumi kembali dan membawanya ke puncak gunung untuk kembali menjatuhkannya, begitu seterusnya. Mitologi ini menggambarkan satu pekerjaan tanpa harapan yang sia-sia.
Menunggu Godot (Waiting For Godot) adalah drama karya Samuel Beckett yang bersifat absurd tentang menunggu seseorang atau keadaan tapi tidak kunjung datang.
Kelinci yang keluar dari topi pesulap adalah ungkapan yang digunakan Jostein Gaarder ,penulis Swedia, dalam bukunya Sophie’s World (Dunia Sophie), satu novel filsafat, yang mengambarkan keadaan manusia yang tidak mengerti apa-apa melihat hakekat dunia yang sebenarnya.
Love has many splendour things adalah judul lagu yang menjadi soundtrack film dengan judul yang sama
Coklat adalah warna kesukaan Keyren.
Apel Hijau yang menyegarkan seperti angin di atas samudra dan tidak terlupakan seperti sahabat lama (Fresh as an ocean breeze, unforgettable as old friends) adalah kata-kata di folder plastik punya Keyren.
Butir-Butir Waktu (The Sands of Time) adalah judul novel karya Sidney Sheldon dengan seting tempat di Spanyol, yang juga menjadi seting tempat Meteor Garden II, penuh dengan tempat-tempat romantis. Suatu saat Keyren akan berkunjung ke sana.
Pedang Excalibur (Excalibur Sword) merupakan pedang yang membawa King Arthur (dalam legenda Inggris kuno King Arthur and the Knights of Round Table )ke tahta kerajaan. Ia mampu mencabut pedang dari tanah saat tidak seorangpun yang mampu melakukannya. Kisah ini juga tentang pengorbanan cinta sejati.
Seperti semangkuk soto di warung ujung jalan adalah penggalan puisi yang pernah ditulis Maria untuk acara Valentine Marketing 2003 bersama anak-anak jalanan Rumah Singgah ‘Cikal’, Jakarta Timur.
Oasis (Longman, Dictionary of Contemporary English). A peaceful or pleasant place that is very different from everything around it.
Oasis (Longman, Dictionary of Contemporary English). A peaceful or pleasant place that is very different from everything around it.
Senin, 06 Agustus 2007
Aku (Ingin) Percaya Pada Cinta
Aku ingin menghentikan persahabatan dengan malam
Karena kepekatannya membuatku terpuruk
Dalam selokan berbau rasa hampa
Saat cinta masih mengental
Dan terasa sangat manis
Dan memenuhinya dengan kosa kata baru
Untuk menyemai kembali
Saat-saat menikmati pelukannya
Yang sempat terlanjur menjadi gunung es
Dalam lautan kekecewaanku yang ‘tak beralasan
Sebelum aku akhirnya tenggelam
Dalam ilustrasi cengeng yang picisan
Isi cerita kisah adam dan hawa
Dan meracik cumbuan
Untuk dinikmati bersama