Selasa, 10 Juni 2008

Kepada Regina

Berceritalah untuk langit ungu, Regina

Tentang rusa kecil yang berjalan ke telaga

Tiap jejaknya meninggalkan bekas

Walau sekilas


Bertanyalah pada angin yang menderu, Regina

Apakah suaranya tetap membahana

Disaat bising kerontang jiwamu mendahaga

Ditengah masa remaja yang kadang menghampa


Bercakaplah dengan sang waktu, Regina

Utarakan mengapa ‘tak sedetikpun ia berhenti

Agar satu hari dapat kau nikmati sendiri

Menghitung batas-batas di nurani


Berbisiklah kepada ombak, Regina

Luapkan emosi dan kegundahan di dinding karang

Dan biarkan rasa sepi itu menjadi gema

Yang hilang saat matahari berdiang


Bersahutlah bersama pohon-pohon cemara, Regina

Menarilah diantara langsing daunnya

Dan nyanyikan ribuan kidung pujangga

Tentang masa kecil

Tentang cinta pertama

Tentang kekaguman rahasia

Tentang pangeran impian

Tentang satu kenangan indah


Berserulah demi suatu masa, Regina

Bahwa engkau layak menjadi mutiara


Berdoalah bagi masa depan, Regina

Berdoalah…

Sabtu, 03 November 2007

Di Satu Cafe

Di satu Café, hampir setengah sepuluh. Aku duduk disudut ruangan yang nyaris gelap. Cahaya yang ada tidak layak disebut ’ sekedar’ temaram. Nyanyian lirih terdengar. Seorang penyanyi duduk diujung sana. Ia tidak cantik. Hanya wanita setengah baya berbaju gelap, rambut pendek dengan lipstik yang menyala. Aku memandangnya sampai aku jenuh. Aku mencari alasan mengapa aku disini, mungkin digiring oleh situasi yang tidak memberikan aku pilihan untuk menolak. Entahlah. Aku berada diantara orang-orang yang semestinya aku kenal. Tapi wajah-wajah itu berubah pias dan asing. Aku mulai gamang. Aku mulai diyakinkan kalau aku akan menyesali keberadaanku. Dua orang, sepertinya pasangan, berada disebelahku. Musik yang mengalir diudara malam yang berwarna kuning itu menyamarkan pembicaraan mereka. Mungkin mereka justru tidak berbicara. Aku tidak begitu perduli. Aku berangsur sibuk dengan pikiranku sendiri.

Disatu Café, lewat dari setengah sepuluh. Mereka tertawa karena lelucon yang tidak lucu. Aku hanya merasa muak melihat tawa mereka. Mereka semakin terbahak. Mereka mentertawakan aku karena aku tidak tertawa. Aku tidak bisa melihat wajah mereka. Karena udara yang masih berwarna kuning itu dan cahaya yang tidak layak disebuti ‘sekedar’ temaram menyamarkan pandanganku.

Mereka berusaha mengajakku berbicara. Aku merasa mual. Senyum mereka menjadi seperti seringai serigala. Mereka bertanya, mereka menjawab, mereka menyapa, mereka berteriak, mereka memaki, mereka marah, mereka gila.. Aku terpaksa menelan celotehan-celotehan hambar yang membuatku muntah.

Di satu Café, jam sepuluh kurang seperempat. Udara mulai putih. Sepasang pria dan wanita sedang berdansa sekarang. Tidak indah. Hanya sekedar gerakan-gerakan dipaksakan dan ekspresi emosional yang tidak matang. Lagu kedua dimulai. Mereka berhenti berdansa. Capek, kurasa. Karena pria itu seorang laki-laki tua yang warna rambutnya berkilau putih ditimpa cahaya yang tidak layak disebut ‘sekedar’ temaram. Udara semakin putih dan aku benci perubahan itu. Pasangan disampingku mabuk. Gelas minuman itu mulai kosong. Aku bisa merasakan aromanya. Aneh. Itu aroma kematian. Dan aroma itu merebak, makin lebar, semakin lebar, menutup segala pembuluh darahku.

Di satu Café, jam sepuluh kurangnya tidak sampai seperempat. Aku gelisah. Mereka melihatku dengan mata semerah saga. Udara menjadi pekat, mulai menghitam. Seorang lelaki botak menatapku dengan sorot yang menjijikan. Aku bisa merasakan hatinya yang mulai berjamur. Busuk oleh ketidaksetiaan, nafsu, angkara, dan pembenaran diri. Pasangan tua itu mulai berdansa kembali diantara musik yang terasa makin berat, menghantam sudut-sudut sadarku, menyayat, menyeret aku dalam pusaran yang menakutkan. Aku ketakutan.

Aku gemetar. Nafasku tersumbat sisa-sisa dosa yang mengerikan. Menabur bau-bau serpihan kesalahan, kemegahan diri, dan kesia-siaan. Aku tercekat. Menatap hidupku dengan pikiran penuh. Mungkin beban, mungkin penyesalan. Memutih benakku, memutih, memutih. Sesak dadaku. Aku tidak bisa menangis meski gemuruh jiwa mulai membuncah. Seketika satu Terang mulai menyala.

Di satu Café, hampir jam sepuluh. Aku akhirnya menangis. Tidak kuasa menahan gumpalan rasa malu. Telanjang aku sekarang. Dimana mereka, dimana penyanyi itu, dimana, pasangan mabuk itu, dimana pasangan dansa itu, dimana lelaki berkepala botak itu, dimana aku?

Terang itu menjamahku. Aku panik. Ia pasti akan mentertawakanku, ia akan menghujani aku dengan pertanyaan-pertanyaan yang tidak bisa kujawab. Ia akan menuntutku karena ketidaksetiaan, kesombongan, penghargaan diri, pembenaran diri, kebohongan, dan seterusnya, dan seterusnya. Aku memalingkan muka. Terdiam. Lama.

Lalu sunyi. Sunyi yang bertahta diantara waktu yang mengalir perlahan. Aku mengumpulkan keberanian untuk menatapNya. Aku berusaha mengatasi rasa takutku. Aku memandangNya. Memandang mataNya. Dan aku sangat terkejut.

Aku tidak mendapati tuduhan di sana. Tidak ada tuntutan. Yang kutemukan hanya mata yang berbicara, “Aku mencintaimu’. Lama aku memandang mata yang tajam dan penuh pengertian itu. Satu-satunya pesan yang kutangkap adalah pesan yang sama. “Aku mencintaimu.” Dan sama seperti Petrus, aku menangis.

Terang itu membawaku keluar dari café itu.

Dalam dekapan Terang, jam sepuluh tepat. Aku merasa damai.

Lalu berpalinglah Tuhan memandang Petrus. Maka teringatlah Petrus bahwa Tuhan telah berkata kepadanya, ,“Sebelum ayam berkokok pada hari ini, engkau telah tiga kali menyangkal Aku.” Lalu ia pergi ke luar dan menangis dengan sedihnya. (Lukas 22 :61,62)


Palembang, 26 Februari 2002

Makarios Merindu

Tuhan,
Jika barisan tahun-tahun pengembaraan masih belum berarti
Berikan kami lagi masa untuk merenungi

Jika sembilan tahun belum cukup bagi niat yang murni
Tambahkan lagi waktu agar kami memahami

Jika kemeriahan bukan yang Engkau ingini
Izinkan kami mengetuk setiap nurani

Jika ruangan yang nyaman ini mendinginkan hati
Turunkan api untuk membakar semangat kami

Jika doa-doa kami hanya menguap di jagad raya
Ajarkan kami tentang ketulusan yang nyata

Jika nyanyian damai itu berhenti bergema
Bantu kami kembali pada kasih yang mula-mula

Jika kami perlu membenahi semua
Buka mata kami untuk melihat dosa- dosa

Jika kepedulian pada sesama tidak lagi lagi ada
Sadarkan kami bahwa semuanya sia-sia

Jika kesadaran kami untuk berbakti menjadi semu
Biarkan kami terdiam mendekap semua haru

Jika kami tidak juga memiliki hati yang baru
Lebur dan tempa kami dalam dapur apiMu

Jika kehangatan mengumpal dan menjadi beku
Cairkan jiwa kami dengan FirmanMu

Jika tembok-tembok pemisah berdiri teguh
Kirim pasukan malaikat untuk membuatnya runtuh

Karena kami meyakini
Engkau tetap mencintai

Karena kami mengimani
Engkau selalu mengiringi

Karena ulang tahun terasa hampa
Tanpa kehadiran Sang Gembala

Karena Makarios kehilangan makna
Bila Engkau tidak turut serta


Karena kami merasakan pilu
Saat jauh dariMu

Karena kami rindu,
Kembali ke Kembangan Baru

Jakarta, 27-28 Oktober 2007

Kamis, 13 September 2007

Anti Klimaks

Jika air mata ini bisa melegakan

Izinkan aku menangis tanpa isak

Jika niat sepenuhku adalah semu

Apa lagi yang bisa membuatku merasa berarti

Jika kasihku padamu berarti rasa cemburu

Bungkam dan bakar saja kata-kata itu

Jika hari-hari depan telah mati

Makamkan aku di atas kerinduanku

Jika kesopanan berada entah dimana

Telanjangi aku karena kekurangan-kekuranganku

Jika harapan terburai memenuhi udara

Biarkan saja pengertian menguap di jagat raya

Jika amarahmu berubah menjadi angkara

Kutuk aku dalam kebisuanmu

Jika maaf masih mungkin terucap

Dalam terpurukku aku meminta ampunmu


Kembangan
6 September 2007
01.00 pagi

Sabtu, 11 Agustus 2007

A Haris’s Environment

Jika kau adalah Cupid
Kau akan tancapkan panahnya di jantung bidadari
Sehingga kau akan jatuh cinta
Dan memberi hati yang tak terbagi
Pada seorang juwita saja

Tapi kau bagai Arjuna mencari cinta
Yang merentang perjalanan
Dari senyuman tersipu-sipu Nurlela
Hingga kekinian yang tak kunjung berjeda

‘Andai’ memenuhi seantero imaji
Bercerita tentang satu kemungkinan yang pernah terlalaikan
Meninggalkan kisah sedih
Yang mungkin akan selalu menemani
Satu cerita jiwa yang nyaris hampa
Karena harapan pernah punah
Dan hilang entah kemana

Kadang sesak itu menyapa
Masuk seenaknya dalam jiwa
Lalu tinggal sangat lama
Karena sering persimpangan menjadi jawaban
Dari pertanyaan yang tak kunjung berakhir

Bimbang itu menyebalkan
Bimbang itu seperti virus
Bimbang itu gerhana matahari
Bimbang itu membosankan
Bimbang itu seperti Poppy

Kau menjadi lagu
Yang syairnya kadang sumbang,
Kadang lebih sumbang
Karena hidup sering mengecewakan
Menghadirkan rasa hampa
Seperti makan siang tanpa ikan teri dan tempe dipotong kotak-kotak

Bermula dari seorang bocah yang tak berdaya
Saat sepeda kesayangan hilang begitu saja

Kau bermetamorfosis menjadi Tepe
Yang merangkul penuh percaya diri
Redupkan warna angkuh dunia

Kau bukan satu bintang di langit kelam
Kau bukan cahaya saat temaram
Tapi kau adalah satu putih
Di belantara jelaga ungu
Yang melukis satu dongeng
Di dunia Abel

Keberadaanmu menjadi warna biru
Digugusan pelangi hati sahabatmu
Menyempurnakan satu kebahagiaan dengan senyuman
Meredakan tangisan dengan rangkulan

Jika kau adalah Cupid
Kau akan terus tancapkan panah cinta itu
Menebar pesonamu pada padang liar dunia
Dan taklukan amarahnya dengan ksatria

Senada cinta bersemi antara Haris, Kiting, dan Tepe
Satu paket ‘harapan baru’ telah dikirim untukmu.

Have a gorgeous gorgeous life !!!

Jakarta, 1 Juli 2003

Foot Notes:

1. Environment , satu kata Bahasa Inggris yang Haris ucapkan. He was so confident while saying it and it sounded wonderful. Environment juga berarli lingkungan, tempat tinggal, habitat, satu dunia yang dalam puisi ini mewakili satu cerita dalam kehidupan Haris.

2. Cupid, satu tokoh dalam mitologi Yunani berlambang anak kecil dengan sayap dan membawa panah yang menjadi simbol cinta. Cupid selalu ada dalam perayaan Valentine, cinta dan pasangan yang jatuh cinta.

3. Arjuna Mencari Cinta, satu judul lagu Dewa [sudah..ku daki gunung tertinggi] yang sempat kontroversial karena juga merupakan satu buku karya Yudistira dengan judul yang sama.

4. Nurlela, hm..ini satu nama yang berkesan untuk Haris karena memperkenalkannya pada satu perasaan yang indah. Mungkin Nurlela bukan cinta pertama, tapi Haris sempat merasa deg-deg-an hanya dengan memegang bukunya. He was still so young but he knew a chick pretty well ;-)

5. Andai, satu lagu GIGI dalam album “GIGI : The Best’.

6. Poppy, jika Nurlela membuat Haris berbunga-bunga, Poppy bangai ‘kutu’ bagi Haris yang harus di ‘plintes’. Kebencian yang nggak beralasan memang, tapi masa muda Haris diwarnai dengan rasa dogkol yang hm..quite silly.

7. Ikan teri dan tempe di potong kotak-kotak, dua macam makanan kesukaan Haris. Belinya di warung Ibu Jawa/Jokaw, tetangganya BiNus Syahdan.

8. Bermula dari seorang bocah yang tak berdaya

Saat sepeda kesayangan hilang begitu saja, curhatnya Haris pada Devi dan Maria di Warung Adijaya, Selasa 1 Juli 2003 saat makan siang.

9. Tepe, Tebar Pesona, panggilan akrab Haris yang sangat jelas merepresentasikan karakternya. Yuli yang pertama kali kasih tau.

10. Satu bintang di langit kelam, satu lagu RSD (Rida Sita Dewi).

11. Abel, Anak Belakang, [terdiri dari Detta, Haris, Yuli, Devi, Hoesin, Maria, Pieter, Tommy, dan Cathel]. Satu gang yang menunjukan identitas dan eksistensi para Abel. [disebut juga Abelian]

12. Biru, warna kesukaan Haris.

13. Kiting, singkatan dari ‘keriting’, panggilan yang diberikan karena rambut Haris pernah dikeriting atas dukungan dari Bunda tercinta.

14. Senada Cinta Besemi di antara kita satu lagu Fariz RM, yang dinyanyikan terus menerus oleh Haris sehingga menjadi satu ‘kecenderungan’ bagi Abel yang lain.

15. Have a gorgeous gorgeous day, satu pernyataan favorit Haris untuk memotivasi orang meskipun

kebanyakan tidak berhasil.


The Chronicle of Keyren


Kadang waktu tidak menjadi bagianmu Key,
seperti Atlas yang dikutuk
membawa beban bumi,
ke batas cakrawala
yang berubah menjadi udara pucat.

Kadang resah itu mendekat Key,
kau menunggu seperti Godot
Lelah hadir dengan pertanyaan kosong
yang engan kau jawab
membiarkan persimpangan itu menunggu,
membiarkan pilihan-pilihan itu belum tersentuh
membiarkan pergumulan itu selalu menantimu.

Kadang lelah mendera Key,
kau seolah kelinci yang keluar dari topi pesulap
berada diantara hiruk pikuk kemenangan
yang tidak menjadi milikmu.

Kadang rindu menjadi kental Key,
mempuingkan keinginan untuk merengkuh raganya
saat Jakarta – Bangkok seperti seuntai mimpi
yang tak pernah selesai
karena kau selalu harus terjaga
saat kau ingin lebih lama terlelap
untuk menciumi wajah kekasih
sambil melantunkan risalah cinta

Love has many splendour things

Kadang sepi mengetuk Key,
Menawarkan buket kelam
dengan sayap-sayap yang patah
Kadang sedih menjadi nyata
saat warna kasih terpuing
dalam hidup yang tidak sempurna.

Kadang sesal hadir
mengikuti kecewa yang datang tiba-tiba
bersama bentangan kenyataan
yang membuatmu berurai air mata.

Kadang semua menjadi nyanyian tanpa syair.
Kadang semua menjadi puisi yang sumbang.
Kadang semua menjadi lukisan tidak selesai.
Kadang semua menjadi sebaris elegi.

Kadang…
Kadang-kadang…
Hanya kadang-kadang…
Karena waktu selebihnya kau habiskan dengan tersenyum
menatap bentangan hidup
seperti sebatang coklat berlapis krim vanila
serta susunan apel hijau yang menyegarkan seperti hembusan angin diatas samudra

dan tidak terlupakan seperti sahabat lama

Tahun-tahun berlalu bagai butir-butir waktu
Meniti pematang hidup yang hijau oleh rasa cinta
Kau menjadi fortis angela
Bersinar seperti pedang Excalibur

tulus seperti merpati
kuat seperti debur ombak yang memecah karang
penuh harapan seperti benih diawal musim tanam
hangat lebih dari semangkuk soto

di warung ujung jalan
memberi kenyamanan
seperti berdiang diperapian saat hujan
menjadi oasis

Ada bintang jatuh Key,
Melesat seperti meteor
di langit malam bersetengah bulan
….

(I wish upon a star)
Before the moon sets again
you shall embrace your happiness

Happy Anniversary!

(Catatan Menjelang Ulang Tahun Keyren

13 Maret 2003)

Chronicle adalah catatan tertulis tentang serangkaian peristiwa secara berurutan

Waktu tidak menjadi bagianku adalah kalimat pembuka pada artikel yang ditulis Goenawan Mohammad untuk Majalah Tempo Edisi Millineum, bulan Desember 1999.

Cerita Mitologi Yunani tentang Atlas yang dikutuk oleh Dewa Zeus untuk membawa bumi kepuncak gunung dan menjatuhkannya kembali. Ia harus mengambil bumi kembali dan membawanya ke puncak gunung untuk kembali menjatuhkannya, begitu seterusnya. Mitologi ini menggambarkan satu pekerjaan tanpa harapan yang sia-sia.

Menunggu Godot (Waiting For Godot) adalah drama karya Samuel Beckett yang bersifat absurd tentang menunggu seseorang atau keadaan tapi tidak kunjung datang.

Kelinci yang keluar dari topi pesulap adalah ungkapan yang digunakan Jostein Gaarder ,penulis Swedia, dalam bukunya Sophie’s World (Dunia Sophie), satu novel filsafat, yang mengambarkan keadaan manusia yang tidak mengerti apa-apa melihat hakekat dunia yang sebenarnya.

Jakarta – Bangkok, dua kota yang menjadi penting dalam perjalanan kisah cinta Keyren.

Risalah Cinta, judul lagu dalam Album Dewa

Love has many splendour things adalah judul lagu yang menjadi soundtrack film dengan judul yang sama

Sayap-Sayap Patah adalah salah satu judul buku karya Khalil Gibran


Coklat adalah warna kesukaan Keyren.

Apel Hijau yang menyegarkan seperti angin di atas samudra dan tidak terlupakan seperti sahabat lama (Fresh as an ocean breeze, unforgettable as old friends) adalah kata-kata di folder plastik punya Keyren.

Butir-Butir Waktu (The Sands of Time) adalah judul novel karya Sidney Sheldon dengan seting tempat di Spanyol, yang juga menjadi seting tempat Meteor Garden II, penuh dengan tempat-tempat romantis. Suatu saat Keyren akan berkunjung ke sana.

Fortis Angela adalah bahasa Latin untuk Strong Angel , nama yang diberikan Maria untuk Keyren.

Pedang Excalibur (Excalibur Sword) merupakan pedang yang membawa King Arthur (dalam legenda Inggris kuno King Arthur and the Knights of Round Table )ke tahta kerajaan. Ia mampu mencabut pedang dari tanah saat tidak seorangpun yang mampu melakukannya. Kisah ini juga tentang pengorbanan cinta sejati.

Tulus Seperti Merpati, satu ayat Alkitab tentang ‘menjadi bijaksana’

Seperti semangkuk soto di warung ujung jalan adalah penggalan puisi yang pernah ditulis Maria untuk acara Valentine Marketing 2003 bersama anak-anak jalanan Rumah Singgah ‘Cikal’, Jakarta Timur.

Oasis (Longman, Dictionary of Contemporary English). A peaceful or pleasant place that is very different from everything around it.


Oasis (Longman, Dictionary of Contemporary English). A peaceful or pleasant place that is very different from everything around it.

Wish Upon A Star dipercayai mempunyai kekuatan lebih bagi seseorang untuk mengucapkan harapannya.


Senin, 06 Agustus 2007

Aku (Ingin) Percaya Pada Cinta


Aku ingin menghentikan persahabatan dengan malam
Karena kepekatannya membuatku terpuruk
Dalam selokan berbau rasa hampa

Aku ingin mengenangkan wangi jus alpukat
Saat cinta masih mengental
Dan terasa sangat manis

Aku ingin merenovasi kaidah benakku
Dan memenuhinya dengan kosa kata baru
Untuk menyemai kembali
Saat-saat menikmati pelukannya

Aku ingin mengkaramkan semua prasangka
Yang sempat terlanjur menjadi gunung es
Dalam lautan kekecewaanku yang ‘tak beralasan
Sebelum aku akhirnya tenggelam
Dalam ilustrasi cengeng yang picisan

Aku ingin menata kembali
Isi cerita kisah adam dan hawa
Dan meracik cumbuan
Untuk dinikmati bersama

Aku (ingin) sekali lagi percaya pada cinta

Kembangan, Selasa, 21 Maret 2006