Rabu, 12 Oktober 2011

Tuhan Kalau Boleh

Tuhan kalau boleh…
Biarku tukar waktu
Duduk di bawah ‘hot spot’ dan berfesbuk
Dengan satu jam bersama ibuku
Memeluk tubuh rentanya yang setia menjaga dan memberi cinta
Kepada lelaki tua yang kusebut ayah
Saat anak-anaknya jauh
Terpisah peradaban dan dimensi waktu

Tuhan kalau boleh…
Biarku ganti jam kerjaku
Yang habis dengan sok memberi konsultasi
Pura-pura memperbaiki ini itu
Juga bersibuk tanpa henti
Dengan satu hari bersama kekasih-kekasih hati
Yang selalu memperoleh sisa
Dari energi dan kekuatan yang ada

Tuhan kalau boleh…
Biarku perbaiki masa lalu
Yang rusak oleh kesalahpahaman dan keangkuhan
Saat cinta mula-mula nyaris kehilangan makna
Untuk sejenak mengemingkan kasih
Agar jiwaku bisa bertahan
Melampaui ujian kehidupan

Tuhan kalau boleh…
Biarku hapus berlaksa egoku
Yang tumbuh silih berganti
Menyemai pertengkaran, kebekuan, dan air mata
Mencatatkan semua pedih
Pada asap yang membumbung tinggi
Untuk sirna dan tidak hadir di kemudian hari

Tuhan kalau boleh…
Biarku ulang kembali kenanganku
Bersama dua pasangan masa kecilku
Abang yang laksana penjaga
Dan adik yang seperti merpati
Saat kami menghabiskan waktu
Meniti buih air di pipa belakang rumah
Dan api abadi yang tetap menyala
Meski di bawah deras hujan yang lama

Tuhan kalau boleh…
Biarku maknai hari-hari kedepan
Menikmati tiga benih yang sedang bertumbuh
Menjadi tiang-tiang kebahagiaan
Dalam rumah tangga yang Engkau persatukan
Melakukan berbagai pekerjaan sederhana
Sebagai seorang ibu dan wanita

Tuhan kalau boleh…
Biarku hentikan detik yang berjalan
Untuk merevisi resolusi
Menghaturkan segala syukur atas arti
Dari rasa sakit yang aku ciptakan sendiri
Dari pedih yang aku toreh sendiri
Dari kesalahan yang aku buat sendiri
Karena Engkau tidak pernah gagal
Menjaga hati dan menciptakan rencana
Yang senantiasa istimewa dan sempurna

Meski kadangkala dalam terpurukku aku berdoa…

Tuhan kalau boleh…
Lalukan cawan derita ini
Tapi bukan kehendakku yang jadi
kehendakMulah jadi…..

Jakarta, 7 Agustus 2010

Matius 26 : 42 Lalu Ia pergi untuk kedua kalinya dan berdoa, kata-Nya : “Ya Bapa-Ku jikalau cawan ini tidak mungkin lalu, kecuali apabila Aku meminumnya, Jadilah kehendakMu!”

Rabu, 20 Januari 2010

Mencintaimu Adalah Udara

Aku mencoba menghitung kembali waktu
Yang mahadaya mengikrar kita pada rentangan nyaris sewindu
‘tak jua aku temukan haru atau rindu atau kelu atau cemburu
Atas anugerah nyata di antara derak-derak percaya yang senantiasa utuh

Aku menyibak setiap sedih dan gundah saat pengertian terhilang
Bukan oleh gemuruh dendam pun oleh ujaran yang terabaikan
Tapi karena batas angkuh dan hikmat manusia menjelma menjadi karang
Yang membentengi kisah kita lalu menghempaskannya pada nihil kekosongan

Aku mereka-reka kesempatan
Untuk menikmati kesegaran cinta mula-mula
Dan menghirup wangi aroma kehidupan
Saat sunyi senyap menghantar altar berbicara

Aku menyemai semua kesempurnaan
Yang memberi jalan pada paket masa depan
Aku memozaikan iman pada bentangan masa
Yang memutih setiap kali kecewa tercipta
Aku memiliki pengharapan yang diagungkan
Saat muncul bimbang dan keraguan
Aku menikmati kasih saat ia menebar wangi
Untuk memberi jalan pada benih generasi

Aku menuliskan semua mimpi
Aku menyirnakan semua elegi
Aku melukiskan semua rintik hujan pagi hari
Aku menutup diri bagi datangnya sepi
Aku menghirup semua harapan
Aku memuntahkan semua kegundahan
Aku mengenangkan semua kebahagian
Aku meleburkan semua kegalauan
Ketika engkau menjadi titik kepastian

Aku mengenangkan arti dirimu dengan kata-kata
Dalam doa, dalam hadiratNya, dalam malam-malam kebersamaan
Karena mencintaimu adalah udara
Yang akan berakhir saat aku meninggalkan kehidupan

Kembangan, Jakarta 26 Desember 2009 2.18 a.m.
Untuk Ulang Tahun Iyang ke-35

Aku Mentertawakan Waktu

Aku menertawakan waktu
Juga terbahak bersama masa lalu
Yang serupa warna jingga di bawah matahari
Saat aku melepas janji seorang lelaki

Aku berbincang dengan rasa galau dan kegamangan
Bertukar kisah tentang cinta yang beraroma gunung dan sungai
Membawa ke hilir semua hasrat dan meninggalkan jejak makna
Di pelupuk setiap keinginan yang aku sebut kecewa

Aku membiarkan aliran udara membentuk elegi
Yang tertata bak lukisan muda : dengan bunga, embun, dan bias cahaya
Yang redup redam oleh perginya malam
Yang berangsur sirna saat engkau melepas dunia kita
Untuk bertemu dengan hujaman buih di karang dan serpihan iota di jagad raya

Aku berdiang bersama rasa hampa
Bertegur sapa dengan jiwa yang pernah ‘ku kenal sebelumnya
Dalam hitungan selaksa yang runtuh ketika cerita berangsur usai
Lalu lekang oleh jarak, masa dan dimensi yang berusaha bijak menyebut dirinya kehidupan

Melalangbuanalah rasa getir tidak percaya
Meliuk ‘bak asap menemukan jalan ke udara
Meratapi butiran butiran waktu yang terurai
Menjadi jejak di sukma, lalu terbenam dalam diam

Bergeminglah amarahku, berpedarlah dengan kegeraman
Bertemulah pada satu sudut yang aku sebut de ja vu
Yang rasa rasanya aku kenal
Yang rasa rasanya aku pernah alami
Yang rasa rasaya aku rasa sebelumnya

Aku mentertawakan waktu
Dan kembali terbahak bersama masa lalu

Kembangan, 7 Desember 2009

Cinta di Sabtu 27 Juni 2010

Berdiamlah sejenak, Anom…
Karena bahagia itu berbicara saat sunyi datang
Untuk menebar utuh pengertiannya
Akan romantisme dan aroma cinta
Pada bentang hari yang nyaris habis
Dan seketika akan lebur dalam kemeriahan

Tetaplah berdiam, Anom…
Karena sendiri ini tidak akan menghampiri lagi
Detik demi detik akan berlalu menutup lajangmu
Dan membawa waktu tiba di penghujung
Lalu menutup satu babak cintamu dengan wangi kebersamaan

Nikmati saat berdiammu, Anom…
Serta lukiskan eforia bersama cawan resah atau harapan atau kegundahan atau kepastian
Di udara senja yang terbuka…
Biarkan racikan itu menguap untuk bertemu serpihan-serpihan cinta

Cobalah mendekap diam itu, Anom…
Rasakan kenyamanannya
Dengarkanlah wejangannya
Tentang kekasih sempurna
Tentang istri setia dan bijaksana
Tentang ibu penuh kasih mesra
Tentang wanita yang mulia
Tentang pengabdian dan kepercayaan
Tentang kesedihan dan keceriaan
Tentang warna ungu dan biru kehidupan
Tentang saat keterpurukan dan kesejahteraan
Tentang cinta dan pengorbanan
Hingga maut memisahkan kehidupan

Merenunglah dalam diam, Anom…
Bahwa cinta datang bukan dengan kebetulan
Ia menjumpaimu dalam rencana terbaik
Ia berbicara padamu meski engkau enggan berlama-lama di lapo tuak asli Medan
Ia berbisik dinuranimu walaupun engkau risih dengan perbedaan
Ia mendekap batas mampumu ketika engkau berpeluh dalam penyesuaian
Ia mengukir kenangan saat cinta ‘menjajal’ arti dirinya untuk mempertemukan dua kenyataan
Ia ada saat sepasang jiwa Sirait dan Sianturi bersatu dalam pernikahan

Ucapkan kata perpisahan dengan diam itu, Anom…
Karena penyatuan cinta itu telah menemukan muaranya…

Jakarta, 25 Juni 2009

Selasa, 19 Januari 2010

Kegundahan Saya

Gundah saya…
Melihat jiwa-jiwa muda itu
Harus membaca dan berhitung
Saat usia belum lagi genap empat tahun

Gundah saya…
Menyaksikan muka-muka lucu itu
Nyaris tanpa ekspresi
Saat aturan ini dan itu
Harus dijalani sepenuh

Gundah saya…
Menyadari masa kecil mereka kehilangan makna
Karena teriakan seru berayun
Pudar karena setumpuk PR
Karena histeria melihat cacing tanah
Hilang karena les-les Matematika dan Bahasa
Karena celoteh riang abang dan upik
Terhapus karena gemuruh tuntutan
Karena senandung ringan saat bermain air, tanah, dan udara
Pupus karena harus menempuh rangkaian ‘tes atau ujian’

Gundah saya…
Karena makna kanak-kanak dan remaja
Mati sebelum waktunya

Gundah benar saya…
Saat ancaman tidak naik kelas dan tidak lulus
Merebut hak mereka untuk menciptakan mozaik keindahan
Yang terpadu elegan karena sikap penerimaan
Yang terlukis tiada terperi oleh motivasi dan kepercayaan
Yang terpapar jelas pada setiap senyum dan dekapan
Yang tersenandung begitu merdu dari kata dan ujaran
Yang terpacu saat bertemu dengan dukungan
Yang nyaris sempurna berkat doa dan harapan

Benar-benar gundah saya…
Melihat tunas-tunas hijau itu
Terbakar matahari keangkuhan
Berbalut prestise, harga diri, dan aktualisasi

Karena bagi saya
Logika perengut kehidupan berbanding sama dengan ketiadaan
Nol, kosong, rapuh, dan hampa
Namun juga bersinonim dengan panen kejutan di masa depan
Saat arti diri berbaring sekarat kehilangan daya
Saat peduli menjadi sekedar milik para pemimpi
Saat etika berada entah di mana
Saat nurani buta oleh angkara
Saat generasi bebal dan kehilangan arah
Saat kebaikan dan pasti(nya) kebenaran hilang terhempas di jagad raya

Gundah saya….
Gundah benar saya…
Benar-benar gundah saya….

Jakarta, Kamis 25 Juni 200

Selasa, 10 Juni 2008

Kepada Regina

Berceritalah untuk langit ungu, Regina

Tentang rusa kecil yang berjalan ke telaga

Tiap jejaknya meninggalkan bekas

Walau sekilas


Bertanyalah pada angin yang menderu, Regina

Apakah suaranya tetap membahana

Disaat bising kerontang jiwamu mendahaga

Ditengah masa remaja yang kadang menghampa


Bercakaplah dengan sang waktu, Regina

Utarakan mengapa ‘tak sedetikpun ia berhenti

Agar satu hari dapat kau nikmati sendiri

Menghitung batas-batas di nurani


Berbisiklah kepada ombak, Regina

Luapkan emosi dan kegundahan di dinding karang

Dan biarkan rasa sepi itu menjadi gema

Yang hilang saat matahari berdiang


Bersahutlah bersama pohon-pohon cemara, Regina

Menarilah diantara langsing daunnya

Dan nyanyikan ribuan kidung pujangga

Tentang masa kecil

Tentang cinta pertama

Tentang kekaguman rahasia

Tentang pangeran impian

Tentang satu kenangan indah


Berserulah demi suatu masa, Regina

Bahwa engkau layak menjadi mutiara


Berdoalah bagi masa depan, Regina

Berdoalah…

Sabtu, 03 November 2007

Di Satu Cafe

Di satu Café, hampir setengah sepuluh. Aku duduk disudut ruangan yang nyaris gelap. Cahaya yang ada tidak layak disebut ’ sekedar’ temaram. Nyanyian lirih terdengar. Seorang penyanyi duduk diujung sana. Ia tidak cantik. Hanya wanita setengah baya berbaju gelap, rambut pendek dengan lipstik yang menyala. Aku memandangnya sampai aku jenuh. Aku mencari alasan mengapa aku disini, mungkin digiring oleh situasi yang tidak memberikan aku pilihan untuk menolak. Entahlah. Aku berada diantara orang-orang yang semestinya aku kenal. Tapi wajah-wajah itu berubah pias dan asing. Aku mulai gamang. Aku mulai diyakinkan kalau aku akan menyesali keberadaanku. Dua orang, sepertinya pasangan, berada disebelahku. Musik yang mengalir diudara malam yang berwarna kuning itu menyamarkan pembicaraan mereka. Mungkin mereka justru tidak berbicara. Aku tidak begitu perduli. Aku berangsur sibuk dengan pikiranku sendiri.

Disatu Café, lewat dari setengah sepuluh. Mereka tertawa karena lelucon yang tidak lucu. Aku hanya merasa muak melihat tawa mereka. Mereka semakin terbahak. Mereka mentertawakan aku karena aku tidak tertawa. Aku tidak bisa melihat wajah mereka. Karena udara yang masih berwarna kuning itu dan cahaya yang tidak layak disebuti ‘sekedar’ temaram menyamarkan pandanganku.

Mereka berusaha mengajakku berbicara. Aku merasa mual. Senyum mereka menjadi seperti seringai serigala. Mereka bertanya, mereka menjawab, mereka menyapa, mereka berteriak, mereka memaki, mereka marah, mereka gila.. Aku terpaksa menelan celotehan-celotehan hambar yang membuatku muntah.

Di satu Café, jam sepuluh kurang seperempat. Udara mulai putih. Sepasang pria dan wanita sedang berdansa sekarang. Tidak indah. Hanya sekedar gerakan-gerakan dipaksakan dan ekspresi emosional yang tidak matang. Lagu kedua dimulai. Mereka berhenti berdansa. Capek, kurasa. Karena pria itu seorang laki-laki tua yang warna rambutnya berkilau putih ditimpa cahaya yang tidak layak disebut ‘sekedar’ temaram. Udara semakin putih dan aku benci perubahan itu. Pasangan disampingku mabuk. Gelas minuman itu mulai kosong. Aku bisa merasakan aromanya. Aneh. Itu aroma kematian. Dan aroma itu merebak, makin lebar, semakin lebar, menutup segala pembuluh darahku.

Di satu Café, jam sepuluh kurangnya tidak sampai seperempat. Aku gelisah. Mereka melihatku dengan mata semerah saga. Udara menjadi pekat, mulai menghitam. Seorang lelaki botak menatapku dengan sorot yang menjijikan. Aku bisa merasakan hatinya yang mulai berjamur. Busuk oleh ketidaksetiaan, nafsu, angkara, dan pembenaran diri. Pasangan tua itu mulai berdansa kembali diantara musik yang terasa makin berat, menghantam sudut-sudut sadarku, menyayat, menyeret aku dalam pusaran yang menakutkan. Aku ketakutan.

Aku gemetar. Nafasku tersumbat sisa-sisa dosa yang mengerikan. Menabur bau-bau serpihan kesalahan, kemegahan diri, dan kesia-siaan. Aku tercekat. Menatap hidupku dengan pikiran penuh. Mungkin beban, mungkin penyesalan. Memutih benakku, memutih, memutih. Sesak dadaku. Aku tidak bisa menangis meski gemuruh jiwa mulai membuncah. Seketika satu Terang mulai menyala.

Di satu Café, hampir jam sepuluh. Aku akhirnya menangis. Tidak kuasa menahan gumpalan rasa malu. Telanjang aku sekarang. Dimana mereka, dimana penyanyi itu, dimana, pasangan mabuk itu, dimana pasangan dansa itu, dimana lelaki berkepala botak itu, dimana aku?

Terang itu menjamahku. Aku panik. Ia pasti akan mentertawakanku, ia akan menghujani aku dengan pertanyaan-pertanyaan yang tidak bisa kujawab. Ia akan menuntutku karena ketidaksetiaan, kesombongan, penghargaan diri, pembenaran diri, kebohongan, dan seterusnya, dan seterusnya. Aku memalingkan muka. Terdiam. Lama.

Lalu sunyi. Sunyi yang bertahta diantara waktu yang mengalir perlahan. Aku mengumpulkan keberanian untuk menatapNya. Aku berusaha mengatasi rasa takutku. Aku memandangNya. Memandang mataNya. Dan aku sangat terkejut.

Aku tidak mendapati tuduhan di sana. Tidak ada tuntutan. Yang kutemukan hanya mata yang berbicara, “Aku mencintaimu’. Lama aku memandang mata yang tajam dan penuh pengertian itu. Satu-satunya pesan yang kutangkap adalah pesan yang sama. “Aku mencintaimu.” Dan sama seperti Petrus, aku menangis.

Terang itu membawaku keluar dari café itu.

Dalam dekapan Terang, jam sepuluh tepat. Aku merasa damai.

Lalu berpalinglah Tuhan memandang Petrus. Maka teringatlah Petrus bahwa Tuhan telah berkata kepadanya, ,“Sebelum ayam berkokok pada hari ini, engkau telah tiga kali menyangkal Aku.” Lalu ia pergi ke luar dan menangis dengan sedihnya. (Lukas 22 :61,62)


Palembang, 26 Februari 2002